Close Menu
  • Beranda
  • Asia
  • Internasional
  • Nasional
  • Tulis Berita
  • Terkini
  • Technology
  • Trending
  • Fitness
  • Food & Diet
  • Big Media

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Kereta Api Jadi Pilihan Aman dan Nyaman bagi Ibu Hamil

IHSG Termurah Sejak 2008, Dr. Dhiraj Kelly Ingatkan Investor Ritel: Murah Belum Tentu Aman

Antisipasi Perubahan Musim, KAI Daop 2 Bandung Perkuat Pengawasan Jalur KA untuk Jaga Keselamatan Perjalanan

Facebook X (Twitter) Instagram
asiapost.id
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Asia
  • Internasional
  • Nasional
  • Tulis Berita
  • Terkini
  • Technology
  • Trending
  • Fitness
  • Food & Diet
  • Big Media
asiapost.id
  • Beranda
  • Asia
  • Internasional
  • Nasional
  • Tulis Berita
  • Terkini
  • Technology
  • Trending
  • Fitness
  • Food & Diet
  • Big Media
You are at:Home»Technology»Optimasi AI Tak Cukup dengan GEO dan AEO, Alexandro Wibowo Perkenalkan Framework AVO
Technology

Optimasi AI Tak Cukup dengan GEO dan AEO, Alexandro Wibowo Perkenalkan Framework AVO

vritimesBy vritimesJuli 27, 2026 9:37 am013 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Seiring meningkatnya penggunaan AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan Perplexity, semakin banyak perusahaan mulai menerapkan berbagai strategi agar brand mereka muncul dalam jawaban AI. Pendekatan seperti Generative Engine Optimization (GEO) dan Answer Engine Optimization (AEO) pun semakin dikenal sebagai cara mengoptimalkan konten untuk AI.

Namun, menurut Alexandro Wibowo, Partner Avonetiq, pendekatan tersebut hanya menyentuh sebagian dari tantangan yang dihadapi perusahaan.

“Sebagian besar diskusi saat ini berfokus pada bagaimana membuat konten lebih mudah ditemukan AI. Padahal, muncul dalam jawaban AI hanyalah hasil akhir. Sebelum itu terjadi, ada proses bagaimana AI mengenali, mengevaluasi, lalu memutuskan apakah sebuah brand layak direkomendasikan,” ujar Alexandro.

Untuk menjelaskan proses tersebut, Alexandro memperkenalkan Authority and Visibility Optimization (AVO) melalui paper Authority and Visibility in the AI Search Era. AVO merupakan sebuah framework yang membantu perusahaan memahami bagaimana AI membangun rekomendasi terhadap suatu brand, mulai dari tahap pengenalan, pembentukan kepercayaan, hingga kemunculan brand dalam jawaban AI.

Berbeda dengan pendekatan GEO dan AEO yang hanya berfokus pada optimasi konten, AVO melihat bahwa keberhasilan sebuah brand di AI bergantung pada dua aspek yang saling berkaitan, yaitu Authority dan Visibility.

Authority menggambarkan seberapa kuat sebuah brand dipahami dan dipercaya oleh AI berdasarkan berbagai sinyal yang tersedia di ruang digital. Sementara itu, Visibility mengukur bagaimana AI benar-benar menggunakan dan merekomendasikan brand tersebut ketika menjawab pertanyaan pengguna.

“Perusahaan sering hanya bertanya, ‘Apakah brand kami muncul di AI?’. Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah, ‘Apakah AI memiliki alasan untuk memilih brand kami?’ Itulah yang ingin dijelaskan melalui AVO,” kata Alexandro.

Menurut Alexandro, hadirnya AI generatif menuntut perusahaan untuk mengubah cara mereka membangun kehadiran digital. Jika sebelumnya keberhasilan lebih banyak diukur dari peringkat di mesin pencari atau jumlah pengunjung website, kini perusahaan juga perlu memahami bagaimana AI membentuk persepsi terhadap sebuah brand sebelum memberikan rekomendasi kepada pengguna.

Penerapan AVO dapat didukung oleh platform AI Visibility seperti AVO AI, yang membantu perusahaan memantau perkembangan Authority dan Visibility brand, membandingkannya dengan kompetitor, serta mengevaluasi berbagai sinyal yang berperan dalam proses AI menghasilkan rekomendasi.

“AVO kami kembangkan bukan hanya sebagai teknik optimasi, tetapi sebagai kerangka kerja untuk memahami bagaimana AI mengambil keputusan. Ketika perusahaan memahami proses tersebut, mereka dapat membangun strategi yang lebih terukur dan berkelanjutan di era AI,” tutup Alexandro.

Tentang Avonetiq

Avonetiq adalah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas brand di era kecerdasan buatan (AI). Avonetiq membantu brand tetap terlihat dan relevan ketika konsumen beralih dari mesin pencari ke answer engine, seperti Google Gemini, ChatGPT, dan lainnya. Melalui Authority & Visibility Optimization (AVO), Avonetiq membangun fondasi otoritas digital brand agar dapat dikenali, dipahami, dan dipercaya oleh sistem AI sebagai sumber jawaban yang kredibel. Info selengkapnya kunjungi www.avonetiq.com.
Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES. 
Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleKomisi B DPRD DKI Jakarta Tinjau Pengelolaan NRW PAM JAYA, Dorong Peningkatan Efisiensi Layanan Air Perpipaan
Next Article Retail Multi Cabang Makin Efisien Berkat Integrasi Odoo Accounting dan Inventory
vritimes

Related Posts

Bittime Tekankan Pentingnya Kepatuhan dan Perlindungan Konsumen di Industri Aset Digital

November 2, 2026 1:22 pm

Sanggabiz di KUMPUL Connect for Change SUMMIT 2026: Mendefinisikan Ulang Dampak Nyata untuk Bisnis yang Terintegrasi

November 2, 2026 12:51 pm

BRI Finance Dukung Kepemilikan Mobil Baru melalui Penawaran Pembiayaan Kompetitif

November 2, 2026 12:25 pm
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Top Posts

Wajib Tahu: Dalam “Trauma”, NADI Memilih Sendiri Sebelum Kembali Membuka Hati Secara Detail

September 9, 2026 6:13 pm79 Views
8.9

Signs of Endometriosis: What are Common and Surprising Symptoms?

Januari 15, 2021 3:55 pm50 Views
8.9

How the Science of Happiness is Helping Student Mental Health

Januari 15, 2021 3:54 pm45 Views
© 2026 asiapost. Designed by asiapost.
  • Beranda
  • Asia
  • Internasional
  • Nasional
  • Tulis Berita
  • Terkini
  • Technology
  • Trending
  • Fitness
  • Food & Diet
  • Big Media

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.