Terkini

Pegiat Kemanusiaan Soroti Keshalehan Sosial Ahmadiyah dalam Diskusi Bedah Buku di Ciputat

WhatsApp Image 2026 02 14 at 09.37.52

Tangerang Selatan – Diskusi dan bedah buku “Muslim Ahmadiyah dan Indonesia, 100 Tahun Keberagamaan dan Kerja Kemanusiaan” berlangsung hangat pada Jumat, 13 Februari 2026 pukul 15.30–17.30 WIB di Gerak Gerik Coffee. Sekitar 30 peserta dari berbagai komunitas di Tangerang Selatan, Ciputat, dan sekitarnya hadir dalam forum yang menghadirkan perspektif sejarah, kemanusiaan, dan demokrasi ini.

Diskusi menghadirkan Muhammad Ghifari Misbahuddin (Pemuda Ahmadiyah), Achmad Fanani Rosyidi (Koordinator Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia/MUDA), dan Barqy Nafsin Kaida, pegiat kemanusiaan dari Yayasan Inklusif. Acara dipandu oleh Ibnu selaku Ketua Umum HMI Komfisip Ciputat, dengan Dedy Ibmar sebagai penanggap sekaligus editor buku.

Mengubah Persepsi Lewat Pengalaman Langsung

Dalam paparannya, Barqy Nafsin Kaida menekankan pentingnya melihat Ahmadiyah secara langsung, bukan semata melalui stigma yang beredar di ruang publik. Ia mengaku pernah berinteraksi dengan komunitas Ahmadiyah di Depok dalam kerja-kerja kemanusiaan.

“Saya datang tanpa banyak pengetahuan teologis. Yang saya temui adalah praktik keberagamaan yang secara sosial sangat mirip dengan Muslim pada umumnya,” ujarnya.

Barqy mengungkapkan bahwa sebelum berinteraksi langsung, ia juga terpengaruh oleh persepsi publik yang kerap menggambarkan Ahmadiyah secara negatif. Namun pengalaman lapangan dan pembacaan buku ini membuatnya melihat realitas yang berbeda.

“Buku ini membuka ruang refleksi. Banyak anggapan yang selama ini terdengar menyeramkan, ternyata tidak saya temukan dalam perjumpaan langsung,” katanya.

Rekognisi Moral dan Proyek Historis

Menurut Barqy, kekuatan utama buku tersebut bukan pada perdebatan teologis, melainkan pada rekognisi moral dan pencatatan proyek historis Ahmadiyah selama satu abad di Indonesia. Ia melihat adanya konsistensi kerja-kerja sosial dan kemanusiaan yang menjadi bagian dari identitas komunitas tersebut.

“Setelah membaca buku ini, saya melihat ada keshalehan sosial yang kuat. Ada kontribusi dalam pendidikan, kemanusiaan, dan kehidupan berbangsa yang jarang disorot,” ujarnya.

Meski demikian, Barqy juga menyampaikan catatan kritis. Ia mengakui bahwa buku tersebut belum banyak mengurai secara mendalam aspek teologis yang menjadi sumber kontroversi dan stigma terhadap Ahmadiyah. Baginya, ruang dialog yang lebih terbuka masih diperlukan agar perbedaan dapat dibahas secara akademik dan rasional.

Dialog sebagai Jalan Tengah

Diskusi yang berlangsung selama dua jam itu memperlihatkan antusiasme peserta yang aktif bertanya dan berdiskusi. Dalam forum tersebut, Barqy menekankan bahwa kerja-kerja kemanusiaan dapat menjadi titik temu di tengah perbedaan teologis.

“Bagi saya, kemanusiaan adalah ruang bersama. Jika ada kelompok yang konsisten bekerja untuk nilai-nilai kemanusiaan, maka itu patut diapresiasi,” tegasnya.

Melalui diskusi ini, para peserta diajak untuk meninjau ulang cara pandang terhadap kelompok minoritas keagamaan dan membangun budaya dialog yang lebih inklusif. Bedah buku ini pun menjadi ruang refleksi bersama bahwa perjumpaan langsung dan literasi yang memadai dapat membantu mengurai prasangka yang selama ini terlanjur mengakar di masyarakat.

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.